Dalam survey yang dilakukan oleh UNESCO untuk mengukur minat baca negara-negara di dunia pada tahun 2012, angka minat baca di Indonesia menduduki salah satu peringkat terbawah: hanya 1 dari 1000 orang yang memiliki minat baca yang serius. Jika kita akan memfokuskan diri pada perbaikan literasi di generasi yang akan datang, maka perlu lah kita secara serius memikirkan, bagaimana kita dapat meningkatkan minat baca pada anak.

Hal-hal berikut perlu mendapat perhatian, dan menarik untuk dikaji lebih dalam saat anda mendapatkan anak yang dirasakan belum memiliki minat baca yang cukup:

  • Peran keluarga dan lingkungan sekitar anak. Anak-anak adalah imitator yang ulung atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Anak-anak yang jarang melihat orang tua yang membaca, akan jauh lebih sulit untuk memiliki minat untuk membuka buku. Sebelum anda menyalahkan pihak lain atas rendahnya minat baca anak anda, ada baiknya anda meninjau seberapa jauh anak dapat mencontoh kegiatan membaca di keluarga dan lingkungan terdekatnya.
  • Sediakan buku yang sesuai dengan minatnya. “Jika anda tidak suka membaca, mungkin anda belum menemukan buku yang tepat untuk anda.” (JK Rowling). Perhatikan apa yang menjadi hobi dan minat anak tersebut (yang acap kali berubah dengan drastis, terutama pada usia yang sangat muda), lalu berikan buku yang sesuai.
  • Pastikan kesesuaian tingkat kesulitan buku dengan anak tersebut. Rasa frustasi anak atas sulitnya buku yang dibaca menyebabkan anak enggan membaca. Membaca menjadi aktivitas yang sulit dan tidak menyenangkan. Meskipun sesekali kita perlu memberikan tantangan agar kemampuan baca anak menjadi lebih baik, hindari melakukannya secara berlebihan.
  • Manfaatkan ketertarikan anak dalam percakapan dengan mengutip beberapa hal dari buku. Anak adalah spons yang memiliki keingintahuan yang besar. Saat anda berbicara dan menjelaskan tentang topik-topik yang menjadi ketertarikannya, ingatkan bahwa anda mendapatkan informasi tersebut dari buku tertentu. Berikan fakta-fakta menarik dari berbagai buku yang anda baca.
  • Dongeng dan Membaca Lantang (Read Aloud). Khususnya untuk anak-anak usia dini, dongeng adalah metode yang ampuh untuk membuat mereka tertarik dengan dunia luar, imajinasi yang tertuang di dalam sebuah buku. Hanya saja, anda perlu sesekali memperlihatkan bahwa dongeng yang anda ceritakan berasal dari buku. Kombinasikan dongeng dengan membaca lantang, sehingga anak-anak terbiasa dengan kegiatan membaca.
  • Hindari mengaitkan kegiatan membaca dengan tekanan, terlebih yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyaknya praktik memaksakan anak membaca di usia sedini mungkin, dapat berakibat fatal, yaitu runtuhnya potensi anak menjadi pembaca yang independen. Studi menunjukkan, anak-anak yang dipaksa belajar membaca di usia prasekolah dan TK justru menyebabkan anak-anak tersebut secara jangka panjang memiliki persepsi negatif atas kegiatan membaca.

Perlu dipahami bahwa tiap anak memiliki keunikan dan potensi yang mungkin berbeda. Kenali keunikan tersebut, dan gunakan dalam meningkatkan minat bacanya. Dengan cara yang tepat, anda dapat menjadikannya sebagai seorang yang cinta membaca di sepanjang hidupnya.