Hubungi Kami | FAQ | Peta Situs  
 :: English Ver. ::
 
Pilih Bagian
 ·Agenda Kegiatan
 ·Berita Terbaru
 ·Book Drop Box
 ·Distribusi Buku
 ·Jaringan Taman Bacaan Anak
 ··Daftar Perpustakaan
 ··Kegiatan Perpustakaan
 ·Kontak 1001buku
 ·Kontribusi Anda
 ·Mari Bergabung
 ·Referensi
 ·Tentang 1001buku

Cari Artikel
Mailing List
Home : Indonesia/ Jaringan Taman Bacaan Anak/ Kegiatan Perpustakaan


Pementasan Teater, Perpustakaan Banten
13 April 2006, by: Gola Gong

Jurnal #20 PRD

?Hatiku sedih, hatiku gundah, hidupku sungguhlah malaang?. Hatiku bertanya, hatiku curiga, mengapa ku tak kaya-kayaaa?. Orangtua sakit parah, tapi tak ada biaya, aku harus bagaimana, tabungan sudah tak bersisa?.?

Lagu sedih yang diadaptasi dari lagu ?Lihatlah dari Dekat?-nya Sherina itu kini jadi populer di kalangan anak-anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), terutama saat latihan teater tiap Kamis (Wisata Lakon/WL).  Itu adalah bait dari penggalan naskah drama satu babak, yang mereka persiapkan untuk pementasan di ?Pesta Buku Jakarta?, 30 Mei nanti. Ceritanya tentang keseharian mereka, anak-anak jalanan yang masih ingin sekolah, tapi terbentur masalah biaya. Peran loper koran, pengamen, dan pemulung bukan hal asing, karena sebagian dari mereka  menjalankan profesi itu sepulang sekolah. Kami sering bertemu mereka di jalan, dan tetap menyapa mereka, untuk menunjukkan bahwa pekerjaan mereka pantas dihargai, selama mereka berlaku benar.

Waktu yang tersedia tak cukup banyak. Kami menggembleng mereka dengan tiga kali latihan dalam seminggu (Kamis, Jumat, dan Minggu), di bawah arahan Budi Wahyu dan Ade dari Teater 66 Serang. Toto ST Radik juga mengarahkan para pembaca puisi, karena pentas itu memadukan puisi dan teater dalam satu babak. Insya Allah kami akan berangkat bersama sepuluh orang anak yang terpilih berdasarkan audisi. Kami kadang tertawa geli melihat betapa semangatnya mereka, datang latihan membawa naskah. Jika di WL reguler mereka biasa berimprovisasi sendiri, kali ini mereka harus tunduk pada naskah dan sutradara. Belum lagi blocking para pemain yang masih perlu dibenahi.

WARUNG BACA

Hal yang patut dibenahi juga tejadi pada Perpustakaan Daerah Banten. Tak disangka tak diduga, Senin (5 Mei) lalu, Pak Yaya dan 2 orang lainnya, dari Perpustakaan Banten berkunjung ke PRD. Mereka mencoba memaparkan program-programnya; mengembangkan perpustakaan yang ada di Banten. Caranya dengan membentuk warung-warung baca di setiap desa. ?Tapi yang utama, kami harus membenahi dulu lembaganya. Semacam konsolidasilah,? kata Pak Yaya. Secara kelembagaan, Perpustakaan Daerah Banten memang belum dikenal masyarakat . Maklum, umurnya masih seumur jagung.

Kami menyarankan, sebaiknya mereka melakukan sosialisasi dulu ke masyarakat lewat dua koran lokal di  Banten. Hanya saja ada yang mengganjal kami, kepala perpustakaannya bukanlah orang yang mengerti tentang perpustakaan. Dengar-dengar mutasi dari Dispenda. Tau sendirilah Dispenda; keesringan berkeipak dengan uang, bukannya  program. Apalagi dana yang tersedia sangat minim. Dibanding dengan Perpustakaan Umum Daerah Tangerang, yang mengalokasikan dana sebesar Rp. 1,2 milyar (Rp. 100 juta untuk dana promosi), Perpustakaan Daerah Banten belum apa-apa. Koleksi bukunya saja baru 2500 eksemplar (sekitar 800 judul buku).

KLUB DISKUSI

Di PRD bukan hanya anak-anak saja yang yang bertebaran. Pada Sabtu (10 Mei), kami mengadakan soft launching Klub Diskusi Rumah Dunia (KDRM); sebuah wadah pengkaderan yang dikelola oleh PRD, Forum Lingkar Pena (FLP) dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (asuhan Toto). KDRM muncul ke permukaan, karena kekecewaan kami pada kondisi berkesenian dan berkebudayaan di Serang, yang tidak mengarah pada kekaryaan. Selama 3 tahun Serang menjadi ibukota provinsi Banten, ternyata belum menumbuhkan iklim berkesenian yang positif. Terutama dengan munculnya generasi penulis baru. Kami berharap dengan adanya KDRM, akan menjadi wadah regenerasi di dunia kesenian. Terutama lewat tataran praktisnya, yaitu menulis. 

KDRM merupakan forum diskusi terbatas. Pesertanya bisa berganti-ganti, tergantung dari siapa nara sumbernya. Tentu lebih memprioritaskan topik di seputar dunia kesenian, kebudayaan, dan perpustakaan. Rencanya diskusi akan bergulir setiap sebulan sekali dan bertempat di PRD.

Di hari Sabtu yang hangat itu, KDRM dihiasi oleh sekitar 20-an orang dari beragam komunitas kesenian; mulai dari Komunitas Sastra Indonesia Tangerang (Wowok Hesti Prabowo), Majalah Sastra Horison (Wan Anwar), Forum Kesenian Banten (Ruby B, Nazla TA, dan Asep GP), Gebar Sasmita (Bunga Rumput Pandeglang), Indra Kusumah (karikaturis) Caf? Ide Untirta, Padepokan Seni Saung, Gesbica STAIN, serta kehadiran dua koran lokal; Fajar Banten dan Harian Banten.

Topik yang kami diskusikan hari itu tentang ?Perlunya Ruang Bagi Masyarakat Untuk Berkesenian?.  Kami sepakat, bahwa itu sangat perlu dan semestinya harus segera diadakan. Ruby membocorkan sebuah rahasia, bahwa Dindik (Dinas Pendidikan) Banten sedang mengusahakan pembangunan Taman Budaya. Bahkan tanah seluas 5 hektar sudah dipersiapkan. Lokasinya kira-kira di Karundang, Serang Selatan, (berdekatan dengan Lembaga pemasyarakatan). Yang menarik dengan Taman Budaya itu adalah sarana pendukungnya. Mulai dari gedung kesenian (teater tertutup), teater terbuka, mess bagi pengelola, pasar seni, penginapan, ruang seminar, ruang pameran, dan mesjid.

Wan Anwar mengingatkan, jika Taman Budaya itu akan dibangun, pihak Dindik (secara institusi sudah betul dan memang semestinya) mengundang berbagai komunitas kesenian yang ada di Banten, agar kelak Taman Budaya itu tidak menjadi seperti gedung lainnya, yang selalu berganti-ganti fungsi; hari ini jadi ruang seminar, besok jadi ruang penganten. ?Satu hal lagi, arsitekturnya jangan asal-asalan!?


Copyright 2002, Komunitas 1001Buku. All rights reserved.
 Design & Development by MétiKs.