Kelas Menulis RUMAH DUNIA:
Membentuk Sikap Kritis Generasi Muda Banten
07 January 2003, by: Gola Gong
Suatu shubuh, saya nongkrong di perempatan Ciceuri Serang, persis di depan toko Fitalia. Sebuah mobil pick up menurunkan bergepok-gepok koran, tabloid, dan majalah. Beberapa orang memisah-misahkan dan mengatur. Dengan selembar kertas atau buku kecil, mereka mulai mengabsen para pengecer, yang sejak tadi antri mendapat jatah. Beberapa orang saya kenal sejak saya masih sekolah di SMU. da yagn sudah jadi agen dan ada kawan bermain tenis, yang kini jadi loper.
KEBUTUHAN
Saya perhatikan judul-judul media cetak itu. Saya kira puluhan judul. Kebanyakan Jakarta minded. Terselip dua koran lokal; Harian Banten dan Fajar Banten. Saya gembira melihat kedua koran itu diminati oleh para loper dan pengecer.
"Banten Pos, gimana?" tiba-tiba seorang loper (atau munkin pengecer) menegur sambil senyum. Ada juga yang mengingatkan, "Tabloid Meridian mestinya sudah besar." Saya hanya membalas sapaan mereka dengan senyum saja. Kedua media cetak itu memang pernah saya bikin bersama Toto ST Radik sebelum era SIUPP dihapus. Tapi, karena terbentur peraturan SIUPP dan modal, akhirnya gulung tikar. Ah, romantisme masa lalu. Tapi, saya tetap gembira, karena masyarakat Serang (Banten) sudah menyadari, bahwa informasi tentang daerahnya sendiri merupakan suatu kebutuhan mendesak lewat kedua koran lokal itu. Ini pasti akan membentuk sikap kritis masyarakat terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya.
BUKU
Menyikapi perkembangan yang ada di Banten, juga seiring dengan visi-misi Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), yang akan trjun langsung dalam pengembangan SDM sejak dini, maka mulai tahun depan akan dibuka kelas menulis. Khususnya ke jurnalistik dan fiksi (cerpen/novel). Pendaftaran akan dibuka pada 5 Januari. Persaratannya, setian calon peserta harus membawa sebuah buku yang disumbangkan ke PRD, 2 contoh tulisan (news dan prosa), serta satu buah pas foto. Lama pendidikan sekitar 3 bulan. Gratis. Tak ada sertifikat. Pengajarnya saya sendiri. Setiap angkatan terdiri dari 20 orang saja.Buku yang disumbangkan boleh buku apa saja. Yang baru oke, yang bekas alhamdulillah. Yang sastra, sip banget, yang pop siapa takut. Harga buku juga bukan masalah. Umur peserta juga lebih pada usia produktif. Yaitu usia sekolah (SMU) dan mahasiswa.
Materi yang akan saya sampaikan, awalnya adalah lebih pada bagaimana caranya kita mengantisipasi masa depan lewat profesi menulis. Saya akan menawarkan pilihan, bahwa profesi wartawan, pengarang, dan penulis skenario adalah alternatif yang baik. Secara empirik saya mengalami hal itu. Jadi, saya merasa yakin, bahwa Banten ke depan akan banyak membutuhkan tenaga-tenaga penulis muda yang kritis, enerjik, dan luas wawasannya. Sekarang baru 2 koran lokal. Siapa tahu era pasar bebas 2003 akan bermunculan yang lainnya. Bahkan kabar burung, TV lokal di Banten akan hadir. Kemudian tentu teknik-teknik dasar menulis sampai ke prakteknya. Insya Allah, setelah 3 bulan, para peserta kelas akan siap menerima tantangan jika dilempar ke "medan pertempuran".
MENGGAMBAR - TEATER
Selain kelas menulis, kelas menggambar juga akan dibuka. Hanya kelas menggambar lebih ditujukan pada anggota PRD. Peserta sudah ada. Yaitu 15 anak yang jadi pemenang lomba menggambar pada "Kado Lebaran" lalu. Hanya saja kami belum konfirmasi dengan Si Uzi (karikaturis Haban, yang belum dikategorikan sebagai seniman di Banten oleh Disbudpar Banten, hahahaa!) soal teknis pelaksanaannya. Juga kelas teater. Kami juga belum koordinasi soal waktunya dengan tenaga pengajarnya dari FKB (Forum Kesenian Banten). Semoga kami mendapatkan kecocokan dengan mereka, agar kelas menggambar dan teater bisa segera terlaksana.
Semoga saja! (gg)