Rumah Pelangi ? Desember 2005
07 January 2006, by: Gunawan
Pada hari Selasa, 13 Desember 2005, Rumah Pelangi diundang untuk menghadiri lokakarya mengenai perpustakaan yang diselenggarakan di LIA. Ada satu hal menarik terucap dari pemateri yang mewakili Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, yaitu ungkapan bahwa di Riau ada dana, di Yogya ada ada otak. Saya berbisik pada dua orang generasi muda
Rumah Pelangi, yang ikut acara tersebut (Bahar dan Ridwan), KALO RUMAH PELANGI
PUNYA MASSA. Itulah Rumah Pelangi: di dalam setiap acara, selalu diwakili oleh lebih dari satu orang.
Ada seorang anggota Rumah Pelangi yang menjadi sukarelawan di sebuah institusi
(yang menurut kami sangat besar) di Yogyakarta. Institusi tersebut sering kali mengadakan kegiatan untuk berbagai hal. Rekan kami ini, selalu saja mohon ijin ke lembaga yang
bersangkutan untuk membawa kawan-kawan Rumah Pelangi untuk membantunya..dan
untungnya juga diperkenankan dengan syarat bala-kurawanya tidak usah
banyak-banyak.
Apa maksudnya mengajak orang-orang Rumah Pelangi untuk membantu? Satu hal tentu
saja untuk meringankan pekerjaan. Namun, hal yang mendasar sebenarnya adalah
memberikan masukan pada penggiat Rumah Pelangi tentang aktivitas organisasi
lain, tentang pentingnya mengenal mereka sehingga dapat ngangsu kawruh.
Selain itu, upaya lain pembelajaran adalah membawa mereka kesana kemari ke
berbagai organisasi dan berbagai perhelatan. Setiap Rumah Pelangi mendapatkan
undangan, satu hal yang tidak pernah terlewatkan adalah pertanyaan pada
pengundang: "Dapatkah saya membawa teman?"
Pernah ada pertanyaan bahwa kelihatannya anak-anak Rumah Pelangi seringkali
ubyang-ubyung (berombongan, rame-rama, red.) ke suatu tempat hanya untuk nonton
kesenian tradisional. Jawaban saya adalah: Itu salah satu proses
pembelajaran. Diharapkan dari datang menonton tidak karena keramaian yang
terjadi namun bagaimana mereka mengelola pertunjukan, apa makna perhelatan yang
diadakan, dsb. Itu lagi-lagi kembali pada mereka. Apakah mereka ubyang-ubyung
itu sekedar hura-hura atau untuk menimba ilmu. Toh mereka sudah beranjak dewasa,
sudah dapat memilih apakah perlu ikut dalam arus ubyang-ubyung atau tidak.
Saya ingat pula ketika ada undangan untuk wawancara radio di sebuah stasiun di
Yogyakarta, 28 Januari 2005. Kutanyakan apakah diperkenankan membawa teman dan
ketika jawaban OK yang keluar kita saat itu berenam naik motor malam-malam
datang ke Yogyakarta (+- 30 km) untuk mengisi acara Dialog Seni Kita pukul 21.15 -
22.15 WIB dan masing-masing bergiliran menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan. Siaran ini pulalah yang memberikan inspirasi Rumah Pelangi sehingga
dapat menanggapi ajakan sebuah radio di Muntilan setengah tahun sebelumnya untuk
membuat acara rutin mingguan yang bernama KABAR BIANGLALA. Cerita tentang itu
tentu saja tidak akan selesai kali ini. Makanya simak saja terus kabar Rumah
Pelangi. Klik juga rumahpelangi.blogspot.com untuk mendapatkan
cerita tentang komunitas kami.
Saat ini kami sedang mengadakan penggalangan dana untuk dapat lebih
mengembangkan Rumah Pelangi. Ada beberapa cara kesertaan bagi yang tertarik.
Tidak hanya dalam bentuk materi, namun juga dalam bentuk saran serta kritik yang
membangun. Sudah ada pula beberapa rekan yang dengan senang hati memberikan
bantuan.
Forum Indonesia Membaca mempercayakan satu komputer dalam bentuk hibah untuk
dipergunakan Rumah Pelangi. Seorang rekan lain tergerak pula untuk membelikan
satu buah flash disk baru. Ada pula beberapa kawan dari jauh yang tertarik lebih
jauh tentang Rumah Pelangi.
Info lebih lanjut, harap kirimkan e-mail ke: rumahpelangi@yahoo.com atau bergabunglah di milis dengan mengirimkan e-mail kosong ke
warga-rumahpelangi-subscribe@yahoogroups.com. Untuk kontak melalui telepon, silakan hubungi Gunawan di: 0818 - 0272 3030.