Hubungi Kami | FAQ | Peta Situs  
 :: English Ver. ::
 
Pilih Bagian
 ·Agenda Kegiatan
 ·Berita Terbaru
 ·Book Drop Box
 ·Distribusi Buku
 ·Jaringan Taman Bacaan Anak
 ··Daftar Perpustakaan
 ··Kegiatan Perpustakaan
 ·Kontak 1001buku
 ·Kontribusi Anda
 ·Mari Bergabung
 ·Referensi
 ·Tentang 1001buku

Cari Artikel
Mailing List
Home : Indonesia/ Jaringan Taman Bacaan Anak/ Kegiatan Perpustakaan


Wisata Tulis
Anak Jadi Cerdas dan Kritis

27 February 2003, by: Gola Gong


jurnal#9

Salam dari rumah dunia

 

walau ayahku pengemudi becak

tapi aku punya cita-cita

walaupun ibuku penjual jamu

tapi aku tak pernah lupa menuntut ilmu

 

pagi aku pergi sekolah

siang aku bantu ibu

untuk masak di dapur

 

setiap malam aku belajar

agar cita-citaku tercapai

 

***

  

SIMPATI PUISI

 

Sajak di atas adalah karya Novi Yanti, pelajar kelas 6 SDN Sumber Agung Cipocok. Dia sangat rajin datang ke Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Ayahnya pernah jadi pedagang kelontong. Karena tertipu, bisnis ayahnya bangkrut. Kini ayahnya kerja apa saja. Seperti sekarang, ayahnya berjualan duren di depan rumah. Sedangkan anak-anak yang lain, ada yang anak tukang becak, petani, buruh pasar di Jakarta, pedagang di pasar Rawu, atau supir angkot. Puisi di atas adalah rasa simpati (boleh juga empati) dari Novi terhadap kehidupan temannya yang anak tukang becak dan pedagang jamu. Perasaan yang kini sangat jarang kita temui di sekitar kita, yang individual dan hedonis.

 

Terutama sense of crisis dari para penguasa dan pemimpin kita di Banten, terhadap rakyat yang diwakilinya. Banyak kasus ketidakpekaan itu di Banten mencuat, yang membuat perasaan kita trenyuh dan miris. Kasus pasien patah tulang di Lebak, yang ditolak RSUD Serang karena tak mampu menyediakan uang Rp 10 juta untuk biaya operasi. Dengan sikon seperti itu, maka sekarang waspadalah jika bepergian di Banten. Jika kita terluka di tengah jalan dan tak bawa KTP, bisa-bisa kita dibiarkan mati saja. Begitulah kira-kira analoginya.

 

RUTIN

 

Nah, dengan puisilah kami melatih anak-anak supaya mempunyai kepekaan nurani terhadap lingkungan. Itu rutin di PRD. Tepatnya di ?wisata tulis? (setiap Rabu, jam 13.00 ? 17.00pm). Anak-anak kami ajak untuk menulis puisi atau prosa tentang ibu yang mengandung mereka selama sembilan bulan, bunga yang madunya banyak, kupu-kupu yang jadi penghias taman, hujan yang memberkahi sawah-sawah ayah mereka, dan bulan yang sahabat matahari. Hasilnya, April/Mei nanti akan terbit antologi puisi anak-anak PRD jilid kedua. Bahkan sekarang, mereka sedang bersemangat untuk bisa ikut dalam ?Lomba Mengarang Jakarta Books 2003? dengan tema ?Indonesia Tanah Airku?.

 

Kami melakukan seleksi ketat terhadap mereka dengan cara membuat karanan bersama-sama di PRD. Tias berperan besar di sini. Dia membimbing mereka untuk efektif memakai bahasa. Selalu ada revisi di setiap karangan yang merea buat. Yang tidak memenuhi persyaratan gugur. Rencananya kami hanya akan menyertakan 5 orang anak di lomba ini. Ketika 5 anak sudah terpilih, kami akan menyuruh mereka menulis karangannya di PRD (bukan di rumah) tanpa campur tangan lagi dari orangtua mereka dan kami, sehingga nanti karya-karya mereka bisa kami pertanggungjawabkan sebagai murni hasil karya mereka.

 

Kadang kami berpikir, andai saja pihak sekolah (dari SD s/d SMU) memaksimalkan kurikulum berbasis kompetensi dengan cara mewajibkan setiap anak membuat puisi atau prosa setiap bulannya. Atau pihak sekolah dan guru Bahasa Indonesia mengadakan lomba menulis puisi/prosa  di sekolahnya masing-masing secara rutin. Perbulan, misalnya. Hadiahnya bisa sebuah buku/novel (untuk anak SMU dan SLTP) atau buku gambar dan pinsil warna (SD). Kami akan heran kalau kegiatan ini  tidak bisa dilaksanakan, karena soal minimnya biaya, sementara di setiap tahun ajaran baru biaya masuknya bisa mencapai jutaan rupiah.

 

Tapi ketika birokrat dan teknokrat di Banten sekarang, kerjanya hanya menghitung komisi saja, maka berpalinglah ke para praktisi. Di Banten ini banyak cerpenis atau penyair kelas lokal sampai nasional. Manfaatkanlah mereka untuk urun-rembuk dalam mencedaskan genrasi masa depan Banten, yang kritis dan cerdas.Di mulai dari sekolah-sekolah dasar dulu. Keudian ke tingkat SLTP dan SMU. Undang mereka untuk memberikan tips-tips pada para siswa/pelajar/mahasiswa. Tentu honorilah merka dengan layak.

 

Bagaimana, para pemimpin? Berani?

 

 


Copyright 2002, Komunitas 1001Buku. All rights reserved.
 Design & Development by MétiKs.