Butuh proses dalam mengenal dan mengetahui keseharian masyarakat, khususnya anak-anak di pulau yang berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Filipina ini. Tiga bulan setelah kedatangan kami di Pulau Morotai, tepatnya Desember 2016, kami mulai mengerti setelah berinteraksi dengan masyarakat. Tidak sedikit dari mereka adalah anak-anak para petani kopra, nelayan, dan pedagang.  Pulau yang digunakan sebagai basis Perang Dunia II ini memiliki berjuta keelokan alam khususnya pesona taman bawah laut. Namun sayang, potret keindahan alamnya belum sebanding dengan potret kemajuan pendidikan anak-anak Pulau Morotai. Dunia anak-anak Pulau Morotai adalah ikan dan alam. Asyik bermain di pantai, memancing, dan berenang adalah pemandangan yang hampir setiap hari kami lihat. Namun, kami jarang bahkan nyaris tak melihat anak-anak yang asyik membaca buku. Kemungkinan disebabkanlangkanya toko buku dan buku-buku bacaan khususnya untuk anak-anak. Berawal dari kondisi inilah perlahan kami membuka rumah belajar dan taman baca untuk masyarakat khususnya untuk anak-anak. Kami ingin mengenalkan satu hobi baru kepada mereka, yaitu membaca.

28 Desember 2016, dengan fasilitas seadanya akhirnya sebuah ruangan kecil sederhana (di rumah kontrakan) kami jadikan tempat membaca dan belajar anak-anak. Kala itu, rumah kontrakan belum dicat, jendela masih terpasang teralis tanpa penutup, dan buku-buku yang berasal dari koleksi pribadi dengan jumlah yang masih sangat sedikit. Walau dengan kondisi seperti itu tidak menghambat niat dan langkah kami untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat khususnya anak-anak. Awalnya hanya beberapa anak saja yang sering berkunjung , namun lambat laun semakin banyak anak yang setiap harinya datang untuk membaca dan belajar. Ternyata antusias mereka untuk mengenal dan menjelajahi dunia lewat buku sangat tinggi. Tidak hanya di rumah belajar, kami pun membuka taman baca di tempat-tempat umum, seperti di taman kota, di pantai, di lingkungan tempat anak-anak berkumpul, dan ketika perayaan hari-hari besar Nasional, serta acara-acara khusus yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat.

Tidak ada keunikan khusus dalam kegiatan rumah belajar dan taman baca Mocibabu, namun kami berusaha untuk selalu memberikan inovasi, kreatifitas dan mengajarkan sahabat-sahabat kecil pelosok negeri ini untuk mencintai ilmu pengetahuan. Bermain sambil belajar adalah kunci utama kegiatan kami, karena dengan metode ini kami berharap agar mereka menyukai kegiatan belajar-mengajar yang mungkin di benak mereka kegiatan ini sesuatu yang membosankan. Kini, kegiatan rutin yang kami lakukan adalah mengajarkan anak-anak membaca, belajar Bahasa Inggris, mengaji, dan keterampilan. Setiap akhir pekan kami membuka taman baca di tempat-tempat umum. Perlahan, nama MOCIBABU (Morotai Cinta Baca Buku) tak asing lagi di telinga anak-anak Pulau Morotai. Ini merupakan pengalaman pertama kami membuka rumah belajar dan taman baca. Kami akan terus berusaha menjadi jembatan kasih untuk sahabat-sahabat kecil di bibir Pasifik. Semoga langkah kecil kami ini dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi sahabat-sahabat kecil Pulau Morotai dengan harapan mereka akan tumbuh menjadi mutiara-mutiara di Bibir Pasifik.