Penamaan Rumah Baca LAICA ABBACAANG berasal dari dua Bahasa Daerah, yaitu LAICA yang berasal dari bahasa Moronene (Suku Moronene adalah suku asli Pulau Kabaena) dan Abbacaang dari Bahasa Bugis Bacaan (Suku Bugis adalah suku pendatang di Pulau Kabaena). Sebuah Rumah Baca yang berdiri di bulan Januari tahun 2017. Berawal dari keprihatinan kami akan pergaulan anak remaja, khususnya Pulau Kabaena yang kerap menghabiskan waktu percuma tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Terbersitlah keinginan kami untuk melakukan kegiatan positif yang bisa menjadi wadah bagi anak-anak pulau Kabaena sebagai tempat belajar dan bermain. Kami lalu meminta izin ke kantor Kecamatan untuk menggunakan panggung Pentas Seni Kecamatan yang selama ini hanya digunakan untuk memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Panggung Pentas Seni ini sangatlah sederhana, beberapa papannya sudah lapuk, letaknya persis di samping pelabuhan yang masih berstatus milik sahbandar.

Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengumpulkan buku bacaan pribadi, mengontak teman-teman melalui media sosial agar mereka menyumbangkan buku bacaan untuk kegiatan yang akan kami lakukan, menempelkan pamflet di pasar, di kios-kios dan warung makan. Kami mengajak anak-anak dan menyampaikan bahwa akan dibuka sebuah Rumah Baca yang kegiatannya di pusatkan di Pentas Seni Kecamatan samping pelabuhan. Kami mulai mencari informasi bagaimana membangun Rumah Baca. Dari situ kami menemukan 1001Buku yang siap mengirimkan bantuan berupa buku ke Taman Baca  yang tersebar  di Indonesia. Bahagia rasanya ketika pertama kali mendapatkan kiriman buku dari 1001BUKU, kiriman ini menjadi bahan bakar penyemangat kami. Kini setiap minggu, pengunjung mencapai 70 orang. Setiap hari minggu pagi kami membawa berkardus-kardus buku dari rumah ke panggung seni samping pelabuhan. Selain itu, setiap jum’at sore kami juga membawa buku ke perkampungan suku Bajo yang berada di kelurahan Sikeli. Tidak hanya membawa buku bacaan kami juga membagikan buku dan alat tulis bagi anak-anak. Semoga kedepannya kami bisa mengunjungi pulau-pulau kecil dan desa lain yang ada di Pulau Kabaena.

Kami berusaha untuk tetap konsisten dengan Laica Abbacaang, terus mengajak anak-anak bahkan masyarakat umum untuk ikut membaca. Laica Abbacaang memanfaatkan kios bekas wartel yang digunakan sebagai sekretariat yang sangat sederhana. Kini tidak hanya dikunjungi oleh anak-anak, remaja SMP dan SMA/SMK tetapi juga ibu-ibu rumah tangga hingga petugas PLN juga datang meminjam buku. Beberapa bulan terakhir hampir setiap hari selalu saja ada yang datang meminjam buku dan ini merupakan pencapaian luar biasa bagi. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan layanan SIAP antar jemput buku yang ingin dipinjam. Dengan memanfaatkan Facebook, kami menawarkan buku bacaan yang boleh dipinjam secara gratis bahkan siap diantarkan ke tangan pembaca. Semua ini kami lakukan demi menyebarkan semangat membaca bagi masyarakat Pulau Kabaena yang sangat kaya akan hasil tambang namun masih sangat miskin dalam Sumber Daya Manusia. Laica Abbacaang kini dikenal sebagai tempat Rumah Baca satu-satunya di Pulau Kabaena yang perlahan-lahan mulai dilirik desa lain untuk dijadikan sebagai percontohan di Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.