Rumah Pintar Adzkia terletak di Desa Gunung Aji Dusun 6 kecamatan Warkuk Ranau Selatan kab. Oku Selatan, Sumatera Selatan. Salah satu kegiatan di Rumah Pintar Adzkia adalah pendampingan membaca buku. Kami biasanya menjadikan gambar yang ada sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan anak, misalnya saat membacakan sebuah fabel, masing-masing tokoh cerita dimainkan intonasi suaranya mulai tinggi, rendah, besar kecil dengan mimik muka memperkuat pengucapan. Kami menyebutnya ekspresi total. Kami juga mengajak anak berdiskusi aktif tentang binatang-binatang tersebut, mulai makanannya, ciri-ciri, cara berkembang biak, dll. Sesekali berinteraksi langsung si tokoh dengan anak-anak, seolah anak adalah lawan bicaranya. kami mainkan emosi anak mulai rasa penasaran akan kelanjutan cerita sampai gerakan-gerakan kejutan. Kami tetap memposisikan buku dapat dilihat anak, Jika pembimbing banyak yang hadir, kami mengembangkannya menjadi sebuah drama. Dari sebuah buku anak mendapat pesan moral, tanpa disadari pengetahuannya bertambah, dan pastinya mendapatkan keasyikan membaca. Kedepannya kami berharap akan lahir generasi-generasi yang haus baca.

Kami berlokasi di area pegunungan, mayoritas penduduknya bertani. Kamipun mengenalkan cara bercocok tanam, mulai dari memanfaatkan tanah di sekitar rumah sampai pada lahan terbatas. Kami pernah membudidayakan strawberry, daun bawang, cabe dll. Jika berhasil memanen, dapat digunakan sebagai tambahan uang kas untuk membiayai kegiatan-kegiatan kami. Kami juga pernah menanam bunga di kiri kanan jalan utama menuju desa. Jalan ini kurang lebih 600 meter, menanjak dan memiliki beberapa tikungan tajam, di sepanjang jalan sisinya adalah  jurang. Jika musim penghujan, sering longsor dan pohon tumbang. Meskipun begitu, jalan desa kami menawarkan pemandangan memukau Danau Ranau. Kami mulai berfikir, kenapa bukan menanam tumbuhan yang lebih bermanfaat? Akhirnya kami mulai menyemai pohon pinang pada polybag, ketika cukup umur kami pindahkan ke lokasi jalan utama desa, sebagai penahan tanah, agar tidak erosi. Ketika kami membawa bibit-bibit pinang ke lokasi penanaman, ada beberapa orang yang melarang kami, katanya karena usia kami masih muda, jika menanam pohon pinang akan mati muda, kami hanya tersenyum saja. 80 batang lebih sudah kami tanam disepanjang kurang lebih 100 meter, jika ada yang mati kami sulam kembali dengan yang baru. Kami senang melihat pohon pinang kami tumbuh tinggi dan hijau. Seiring harapan kami yang tumbuh besar untuk sebanyak-banyaknya memberikan manfaat bagi lingkungan. Secara berkala kami membersihkan rumput-rumput liar disekitarnya. Jika memungkinkan, kami ingin nantinya sepanjang jalan utama berhasil kami tanami.

Kami juga menanamkan jiwa wirausaha pada anak-anak, mengembangkan kreatifitas mereka. Bagaimana membaca dan memanfaatkan peluang, supaya tidak gaptek dll. Sejauh yang sudah kami lakukan adalah memanfaatkan barang-barang bekas untuk membuat sesuatu yang bernilai jual. Minimal mereka tidak membeli tapi menggunakan karya sendiri. Seperti membuat hiasan rumah dari kardus berupa miniatur rumah, mobil, tas ramah lingkungan dari kalender bekas atau poster kampanye pilkada, bros dari manik-manik, pita dan bulu-bulu ayam, kaligrafi dan banyak lagi lainnya. Kami biasanya menjualnya pada masyarakat sekitar, atau menitipkannya di stand acara-acara tertentu. Hasilnya untuk tambahan uang kas atau membiayai kegiatan-kegiatan kami. Jika konsisten stimulasi ini diberikan, kami berharap kedepannya mereka menjadi manusia-manusia yang produktif, perduli lingkungan, menjadi jiwa-jiwa yang tidak merusak melainkan pribadi yang terus berkembang pada kemajuan dan kebaikan. Lakukan saja yang diyakini sebagai kebaikan. Selebihnya biarkan Allah yang bekerja.